
vivo X Fold5 rilis di Indonesia sebagai kejutan saat peluncuran vivo V60 beberapa waktu lalu. Kehadirannya langsung mencuri perhatian berkat keunggulan yang dibawanya, mulai dari desain bodi tipis saat dalam posisi terlipat, bobot ringan, baterai berkapasitas jumbo, hingga kemampuan kamera yang bukan sekedar gimmick.
Pricebook mendapat kesempatan untuk mencoba hp vivo terbaru ini selama beberapa hari sebelum tanggal peluncuran resminya di Indonesia. Kesempatan ini sekaligus saya gunakan untuk membedah tuntas kemampuannya ketika dijadikan sebagai perangkat keseharian (daily driver).
Terdapat beberapa hal menarik yang menjadi perhatian saya selama mengulas vivo X Fold5. Berikut review lengkapnya.
Desain

vivo X Fold5 yang saya ulas adalah varian berwarna Titanium Gray dengan pendekatan desain minimalist-aesthetic yang keseluruhan tampilan fisiknya, meski terlihat simpel, namun memberi kesan premium yang cukup kuat.
Ketebalan bodinya hanya 9,2mm, kurang lebih seperti smartphone non-lipat pada umumnya. Ketika layar dibuka penuh, ketebalannya menjadi 4,3mm. Selain bodi tipis, bobot vivo X Fold5 juga terbilang ringan, hanya 217 gram. Ini menjadikannya hp lipat paling ringan di kelas flagship dengan baterai besar.
Material belakangnya menggunakan fiberglass dengan dual-layer coating, memberi tekstur mewah sekaligus grip yang mantap. Frame aluminium alloy juga dibuat dengan sisi lebih soft sehingga tetap nyaman digenggam.
Bagian hinge menggunakan Ultra Reliable Waterdrop Hinge, yang bikin lipatan layar nyaris tidak terlihat. vivo mengklaim ketahanannya hingga 600 ribu kali lipatan, dan sudah lolos sertifikasi TÜV Rheinland.
Proteksi layar luarnya mengandalkan Second-Generation Armor Glass yang diklaim 11x lebih kuat dari kaca biasa, ditambah sertifikasi IPX8, IPX9, dan IP5X.
Layar

Layar jadi salah satu perhatian terbesar saya selama menggunakan vivo X Fold5. Kedua layarnya menggunakan panel LTPO 8T AMOLED 120Hz, dengan ukuran 6.53 inci (layar cover) dan 8.03 inci (layar utama).
Resolusinya tinggi, dengan tingkat kecerahan hingga 4.500 nits, saturasi warna 105% NTSC, dukungan HDR10+, dan Dolby Vision. Pengalaman saya menonton tayangan streaming dan gaming sangat memuaskan.
Layar utamanya sendiri sudah dilapisi Ultra Thin Glass generasi terbaru, sehingga permukaan swipe terasa mulus, dan lipatannya nyaris tidak terlihat.
Rasio piksel density 457 PPI di cover screen dan 412 PPI di layar utama, sejauh pengalaman saya cukup tajam saat smartphone digunakan dalam beraktivitas. Selain itu, multitaskling di vivo X Fold5 juga menyenangkan.
Kamera

Masuk ke bagian yang paling menjadi favorit saya ketika mengulas smartphone, tentu saja sektor fotografi. Kamera vivo X Fold5 merupakan hasil kolaborasi dengan ZEISS dan terdiri dari:
- 50MP VCS True Color Main Camera
- 50MP ZEISS Telephoto (Sony IMX882, 3x optical zoom, 30x digital zoom)
- 50MP Ultra Wide-Angle
Kamera telefoto jadi bintang utama dengan peningkatan intake cahaya 33% lebih banyak dan teknologi AI Image Enhancement. Hasil zoom 20x–30x tetap tajam tanpa pecah, cocok buat arsitektur gedung maupun pemandangan landscape.
Fitur unik lainnya termasuk AI Four Seasons Portrait untuk mengubah suasana foto menjadi empat musim, dan Super Landscape Mode untuk motret panorama dengan detail lebih stabil, bahkan tanpa tripod.
Berikut beberapa hasil jepretan kamera vivo X Fold5:




Performa

Ditenagai Snapdragon 8 Gen 3 dengan RAM 16GB LPDDR5X dan storage UFS 4.1 hingga 512 GB, performanya jelas flagship. Skor AnTuTu tembus 1,8 juta poin. Gaming berat seperti Genshin Impact stabil di 58–59 fps dengan grafis highest 60fps, tanpa throttling berarti.
Untuk multitasking, vivo menyematkan Origin Workbench, memungkinkan hingga 5 aplikasi berjalan sekaligus di satu layar. Sistem pendingin juga didukung antena khusus, termasuk Dual-Screen Enhanced Antenna Technology dan Hinge Antenna 2.0, bikin koneksi tetap stabil baik saat folded maupun unfolded.
Selain Origin Workbench, karena saat mengulas vivo X Fold5 diselingi dengan bekerja, saya juga merasakan manfaat dari beberapa fitur penunjang produktivitas yang ada di smartphone ini, seperti:
- Shortcut Button: Akses cepat ke aplikasi atau fitur penting.
- Snap Text / Air Extract: Scan teks dari dokumen fisik dan langsung diubah ke digital.
- AI Captions: Transkrip percakapan real-time, bahkan bisa langsung diterjemahkan.
Fitur-fitur ini membuat vivo X Fold5 menjadi bukan sekedar smartphone lipat biasa, tapi juga perangkat produktivitas modern yang sangat membantu dalam bekerja.
Baterai

Foldable sering dikritik soal daya tahan, tapi vivo X Fold5 justru hadir dengan baterai 6.000 mAh. Konsumsi dayanya menurut saya cukup efisien. Ketika digunakan untuk bermain Genshin Impact selama 30 menit, hanya menguras 12%, sedangkan untuk nonton YouTube selama 30 menit, baterainya berkurang 4%.
Pengisian daya baterai vivo X Fold5 juga cepat, karena sudah dibekali dengan charger 80W berteknologi FlashCharge. Pengisian daya dalam hitungan menit bisa mengisi hingga 30%, sementara pengisian penuh membutuhkan waktu hingga kurang lebih 45 menit.
Kesimpulan
vivo X Fold5 membuktikan bahwa hp lipat bisa ringan, tipis, tapi tetap powerful. Desain 217 gram dengan ketebalan 9,2 mm, layar AMOLED 120Hz super cerah, kamera co-engineered ZEISS serba 50MP, performa Snapdragon 8 Gen 3, baterai jumbo 6.000 mAh, hingga fitur penunjang produktivitas bikin hp ini terasa lengkap.
Kekurangan minor ada di bodinya yang tipis, bikin cepat hangat saat dipakai intensif, dan penggunaan case yang kadang terasa kurang nyaman di mode terbuka. Tapi di luar itu, vivo X Fold5 berhasil naik level sebagai hp lipat paling seimbang. Singkatnya; ringan, tangguh, bertenaga, dan fungsional.

