Diperbaharui pada Rabu, 30 November 2022 | 20:25

Strategi Industri Telekomunikasi Hadapi Resesi Global 2023

Strategi Industri Telekomunikasi Dalam Menghadapi Resesi Global 2023
Kondisi perekonomian global pada tahun depan diprediksi tidak baik-baik saja. Sejumlah pihak memprediksi akan ada resesi global 2023 yang membuat negara seperti RI harus tetap waspada dan berhati-hati, walau pertumbuhan ekonomi RI masih baik pada 2022.

Prediksi resesi global membuat sejumlah industri harus melakukan mitigasi. Untuk industri telekomunikasi, apa strategi yang harus dilakukan untuk menghadapi prediksi resesi 2023?

Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin mengatakan, sektor telekomunikasi masih diuntungkan tahun depan karena konektivitas dan layanan digital sudah menjadi kebutuhan pokok selama pandemi hingga sekarang.

Melihat kinerja dari sektor telekomunikasi selama 9 bulan pertama 2022, ia memprediksi pada 2023 sektor Halo-halo ini bisa tumbuh dikisaran 4% hingga 5%. Hal ini cukup penting karena sektor telekomunikasi menjadi roh digitalisasi saat ini.

Digitalisasi jadi penopang setiap usaha untuk menopang perubahan beadaptasi di situasi pandemi. Apalagi ada pembatasan ruang gerak saat pandemi yang dijawab dengan layanan digitalisasi seperti telekonference, telemedisin dan sebagainya.

"Tanpa ada layanan telko, tidak ada konektivitas sebagai kunci digitalisasi, digitalisasi ini di indoensia belum menumbuhkan kondisi yang melesat tapi masa pertumbuhan. sehingga peluang besar di tengah 250 juta pengguna internet," katanya dalam webinar HUT IndoTelko bertajuk "Strategi Industri Digital Indonesia Hadapi Resesi Global.

"Di tahun 2023 mendatang, kita akan lebih banyak bicara digitalisasi di Indonesia, tapi yang bagaimana agar Indonesia jadi pusat perhatian dunia dalam hal digitalisasi karena saat ini kita masih jadi pasar bukan pelaku utama digitalisasi," ujarnya.

Sementara Ismail, Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Kominfo mengatakan, industri digital justru jadi solusi karena jadi tumpuan harapan sektor sektor yang lain.

Lalu apa yang akan dilakukan pemerintah dalam sektor digital ini agar jadi solusi kala perlambatan ekonomi global?

Langkah pemerintah yakni deregulasi regulasi penghambat usaha dengan hadirnya UU Cipta Kerja. UU ini memungkinkan terciptanya kolaborasi di sektor telko, seperti sharing infrastructure sampai dengan spectrum sharing.

Kemudian, UU Cipta Kerja juga berikan ruang pemerintah pusat dan daerah melakukan perubahan posisi jadi fasilitator, yakni berikan kemudahan pelaku industri telko, misal untuk perizinan hingga tarif.

Terobosan lain, UU Cipta kerja juga lakukan analog switch off di dunia penyiaran, agar tersedianya spektrum frekuensi radio &00 Mhz untuk bantu operator seluler gelar infrastrukturnya lebih efisien.

Kemudian, pemerintah juga jadi investor dengan membangun infrastruktur yang diperlukan operator. Misal dengan membangun bacbone Palapa Ring hingga satelit HTS.

Peran pemerintah selanjutnya yakni dorong masyarakat dengan literasi digital. Serta pemerintah akan bangun data center nasional (PSN) untuk kebutuhan pemerintah agar pelayanan publik lebih baik dan aman.

Antisipasi Industri Telko

Strategi Industri Telekomunikasi Dalam Menghadapi Resesi Global 2023
Telkomsel

Hendri Mulya Syam, Direktur Utama Telkomsel, mengatakan, Telkomsel memastikan seluruh roadmap perusahaan untuk menghadapi tantangan dengan terus berinovasi menghadirkan layanan bisnis yang sesuai kebutuhan masyarakat.

"Hal pertama dengan memperkuat core business Telkomsel sebagai penyedia layanan konektivitas digital terdepan seperti hadirkan paket internet sesuai value yang dibutuhkan masyarakat," kata Hendri. 

Telkomsel juga merilis sejumlah aplikasi sebagai solusi di masyarakat seperti menghadirkan layanan edukasi Kuncie, yakni platform berbasis aplikasi untuk pengembangan keterampilan berbagai bidang. Kemudian layanan health tech. Serta kembangkan layanan digital sektor pangan TelkomselDFE untuk smartfarming.

"Telkomsel juga dukung digitalisasi UMKM dengan aplikasi penghubung dan terintegrasi. Dengan demikian Telkomsel bertransformasi jadi perusahaan digital terdepan yang memiliki portofolio komprehensif solusi digital," pungkasnya.

XL Axiata

Dian Siswarini, CEO dan President Director XL Axiata mengatakan, tahun 2023 perusahaan akan fokus ke 3 pilar utama. Yang ertama fokus pada penawaran convergent sesuai dengan vuisi perusahaan yang menyasar segmen keluarga dan SME.

Kemudian, XL Axiata juga akan terus mengembangkan infrastruktur jaringan demi mendukung kualitas layanan lebih baik lagi, salah satunya dengan mengembangkan infrastruktur di luar Jawa.

"Kami akan meningkatkan otomasi dan digitalisasi untuk efisiensi operasional, gunakan AI dan analitik sehingga solusi yang diberikan juga tepat sasaran sesuai yang konsumen butuhkan, serta mempersiapkan perusahaan untuk menghadapi biaya meningkat tahun depan dengan cara menekan biaya operasional seperti energy saving," kata Dian.

"Kami juga akan mempertahankan posisi finansial perusahaan yang kuat dengan cara meningkatkan debt to ebitda ratio. Serta menjaga cashflow di posisi positif."

Indosat Ooredoo Hutchison

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menyampaikan perusahaan berupaya mengembangkan layanan 5G di sejumlah kota untuk mendukung percepatan digitalisasi.

"Yang sangat penting adalah soal literasi digital agar masyarakat Indonesia terutama kaum muda menggunakan teknologi secara positif. Kemudian, soal UMKM lantaran sektor ini berkontribusi 60 persen bagi ekonomi Indonesia sehingga kita harus mendukungnya. Salah satu inisiatif yakni marketplace Indosat untuk UMKM," kata Vikram.

Indosat juga punya ID camp, yang memeprsiapkan talent digital untuik berkiprah secara global. Serta mendorong kiprah perempuan dalam pembangunan ekonomi nasional.

"Mari berkolaborasi untuk mendorong digitalisasi di Indonesia, untuk menghubungkan Indonesia dan memberikan pengalaman terbaik bagi setiap warga Indonesia," katanya.

Perlunya Kolaborasi

Strategi Industri Telekomunikasi Dalam Menghadapi Resesi Global 2023
Rudiantara Ketua Umum Indonesia Fintech Society mengatakan, industri telekomunikasi perlu melakukan kolaborasi dalam ekosistem ekonomi digital, di luar bisnis network (jaringan) dan device (perangkat).

Industri telko saat ini ada 230 juta pelanggan seluler, sektor keuangan yang pegang rekening ada 150 juta, jadi banyak orang pakai ponsel tapi gak punya akses keuangan.

Aplikasi tumbuh luar biasa, digital economy paling tinggi di e-commerce, semua transaksinya pasti menggunakan uang. Untuk itu fintech yaitu payment sistem dan lending yang pertumbuhannya jauh di atas industri telko.

Kisaran kasar, satu pelanggan saja bisa 20 kali lakukan transaksi telko entah chatting dan sebagainya. Sementara di perbankan rendah karena untuk transaksi e-commerce satu orang hanya 2-3 kali sehari.

Artinya ada 1,5 miliar data terkumpul di telko, yang bisa dimanfaatkan misal untuk profiling credit scoring di fintech. Ini bisa jadi peluang pertumbuhan baru bagi telko.

"Inilah peluang yang besar untuk tumbuhkan digital. Selama mindset bisnis enggak di network saja tetapi aplikasi, tanpa harus punya lisensi misal fintech karena regulasi sangat ketat, maka operator bisa kembangkan sektor digital dengan data-data tersebut," kata Rudiantara .

"Manfaat yang paling mesar yakni money data, kalau rata-rata 6-8 kali lakukan transaksi, 1,5 miliar data yang bisa dimanfaatkan, misal untuk profiling," lanjutnya.

Menurut dia, industri digital bukan industri yang dikembangkan pemerintah. "Saya yakin akan survive, pemerintah hanya fasilitasi saja jangan over regulated, justru harus jadi fasilitator," kata Rudiantara.

Analis bursa saham Reza Priyambada juga mengungkapkan hal senada dengan Rudiantara. Dalam paparannya, pertumbuhan industri telko memang tidak sekencang industri digital. Kinerja dari Telkom, Isat, Fren, XL tercatat sampai Q3 2022 pertumbuhannya single digit dari sisi pendapatan.

Kemudian, beberapa emiten alami penurunan pertumbuhan laba bersih, Sehingga disimpulkan industri telko masih tumbuh tapi melambat. Perlu banyak inovasi dan ekspansi industri telko supaya kinerjanya lebih baik lagi sehingga value creation emiten telko jadi pilihan pelaku pasar. "Sesuai perkembangan zaman adanya disrupsi, justru peluang masih ada," kata Reza.

Misal dengan memanfaatkan work from home, gaming industri, cloud, AI Data Analytucs hingga keamanan siber.

Like us!
Nur Abdillah

Content Writer

2077 Posts

Punya pengalaman di beberapa media yang mengulas gadget, seperti Tabloid SMS, Tabloid Roaming, Majalah Digicom hingga Majalah Techlife. Selalu berusaha berbagi informasi yang akurat dan terupdate seputar teknologi dan gadget.