Hebat, Es Bisa Jadi Tenaga Dorong Satelit!

Oleh Nadia Maharani on Kamis, 25 Jun 2015 | 19:08

Para pakar luar angkasa di TU Delft, Belanda, menyebutkan jika es bisa menjadi tenaga pendorong satelit kecil dan menjadi alternatif menarik dibanding menggunakan bahan bakar roket konvensional. Hal itu berawal dari departemen Space Systems Engineering yang mengambil bagian di program satelit nano CubeSat. Satelit tersebut sangat mungil mengingat dimensinya hanya 10 x 10 x 10 cm. Pada program tersebut rencananya akan dibuat 50 satelit nano untuk multi-point.

Langkah selanjutnya adalah program DelFFi yang tujuannya adalah untuk meluncurkan dua satelit yang diberi nama Phi dan Delta. Kedua satelit tersebut harus mengorbit dalam sebuah formasi yang memiliki rentang jarak hingga 1000 km. Tentu saja, satelit-satelit berukuran nano itu membutuhkan tenaga dorong yang tidak sebesar satelit pada umumnya.

Jangan terkecoh dengan ukuran mini kedua satelit tersebut. Delta dan Phi memiliki sistem yang baik. Satelit DelFFi itu rencananya akan diluncurkan tahun ini dengan memanfaatkan air sebagai sistem propulsion-nya.

Berdasarkan hal tersebut, es juga bisa menjadi pilihan bagus sebagai sistem tenaga penggerak. Molekul air akan menyublim dari solid menjadi gas saat berada di area bertekanan rendah di luar angkasa. Hal yang sama secara teori juga berlaku pada es.

Baca juga Asus Zenfone Anda Rusak? Kenali Garansi dan Tempat Perbaikinya.

Para pakar beranggapan es akan menjadi tenaga penggerak lebih baik. Hal itu karena es lebih mudah untuk disimpan. Selain itu, es tidak mudah tercampur dengan gas. Sebaliknya, air mudah tercampur dengan gas ketika tak ada gravitasi.

Saat ini departemen Space Systems Engineering telah membuat prototype untuk sistem pendorong yang menggunakan es. Perangkat tersebut mempunyai sebuah tank penyimpanan dengan dua elemen pemanas dan es.

Untuk membuat sistem pendorong satelit tersebut bekerja, kedua elemen pemanas tersebut akan diaktivasi. Uap yang dihasilkan akan terperangkap di tank sekunder lalu dipanaskan kembali serta dikeluarkan melalui sebuah saluran dengan ukuran 0,5 x 0,1 mm.

Baca juga10 Game Android Gratis Terbaik yang Layak Anda Install

Setelah dilakukan beberapa tes, muncul masalah dimana hanya 15 - 25% molekul air yang mampu melewati saluran tersebut. Tak cuma itu, es sulit untuk tetap dingin saat peluncuran satelit sehingga para peniliti harus mencari solusi untuk mengatasi permasalahan itu.

Terlepas dari beberapa kendala tersebut, penggunaan metode sistem penggerak berbasis es atau molekul air itu cukup menjanjikan. Diharapkan permasalahan itu akan terselesaikan pada akhir tahun ini.

 

Baca juga artikel

Sambut Ramadhan, Xiaomi Tawarkan Redmi 2 dengan Harga Lebih Terjangkau

Vivo X5 Pro, Octa Core Seharga Rp 5 Juta Tapi RAM Cuma 2GB

Cara Mengoneksikan Perangkat Android ke TV

Artikel Lainnya

Komentar