Empat Hal Ini Diprediksi Bisa Menumbangkan Kesuksesan Xiaomi

Oleh Alena Yulitta on Rabu, 25 Peb 2015 | 09:41

Bisa dikatakan Xiaomi adalah satu-satunya perusahaan smartphone yang mampu sukses dengan cara yang sangat instan. Dikatakan bahwa hanya dalam beberapa bulan saja sejak perangkat pertamanya diluncurkan, Xiaomi telah mampu mengalahkan dominasi dua vendor raksasa Apple dan Samsung di tanah Tiongkok, tak terkecuali Lenovo dan Huawei.

Sejak tahun 2011 Xiaomi telah menjual lebih dari 60 juta unit perangkat dan keuntungan lebih dari 45 milyar dolar pada akhir 2014 yang lalu. Bahkan di India, Mi 4 terjual ludes hanya dalam waktu 15 detik saja. Namun para pengamat memperingatkan Xiaomi bahwa mereka bisa saja menghancurkan kesuksesan mereka sendiri jika tidak memperhatikan empat hal berikut. Anda penasaran apa saja yang bisa menghancurkan Xiaomi? Simak ulasan yang disarikan dari Androidauthority berikut ini.

Lisensi dan legalitas

Hal pertama yang bisa menghambat kesuksesan Xiaomi adalah lisensi dan masalah hukum. Seperti diketahui, strategi Xiaomi yang pertama kali adalah mencontek Apple, hal ini bisa Anda lihat dari kemiripan antara iPhone 5S dan iPad Mini pada perangkat Mi 4 dan Mi Pad. Walaupun Xiaomi telah melakukan beberapa perubahan dan ada perbedaan besar diantara kedua perangkat yang mirip tersebut, namun tetap saja produk Xiaomi sangat kental dengan nuansa Apple dan mereka juga mengadopsi cara Apple untuk marketing mereka.

Xiaomi juga menggunakan foto-foto dengan hak cipta. Jika pelanggaran hak lisensi ini bisa bebas dilakukan di Tiongkok, namun tidak akan bisa dilakukan di negara lain. Jika ada kesempatan maka Apple dan vendor lain yang merasa dicontek Xiaomi pasti akan mengajukan tuntutan. Jika Apple saja bisa menang dari Samsung, apalagi melawan Xiaomi. Lebih parahnya, Xiaomi tidak punya kocek setebal Samsung.

Hanya dijual secara online

Pada awalnya memang tampak “wah” Xiaomi dijual hanya di internet saja, seperti barang-barang mewah di luar negeri, namun hal ini banyak kekuranganya karena di sebagian besar negara, penjualan perangkat mobile harus disertai kontrak dengan operator setempat, sehingga sulit kiranya bagi Xiaomi untuk melakukan deal-deal dengan operator seluler yang ada.

Selain itu penjualan secara online tak menyediakan tempat untuk melakukan service dan juga klaim garansi secara langsung dan cepat. Lama-kelamaan, Xiaomi tidak akan disukai karena terkesan hanya menjual, namun tak menyediakan After Sale Service. selain itu penjualan secara online membuat pembeli tak bisa melihat fisik barang yang dibelinya sebelum dibayar dan dikirimkan ke rumah. Selain itu proses pengiriman sendiri tak 100% aman dari kerusakan, walaupun ada garansi, pasti memakan waktu dan lama.

Keuntungan sangat sedikit

Penjualan online yang dipergunakan sebagai taktik Xiaomi untuk menjangkau lebih banyak konsumen dengan cepat dan murah. Bahkan demi menjual lebih banyak perangkat Xiaomi rela memangkas keuntungannya hingga batas tertipis dengan begitu harga perangkat bisa sangat murah. Mereka sangat tergantung pada keuntungan dari aplikasi Google yang ada smartphone mereka seperti Google Play Store dan berbagai aplikasi yang dijual. Xiaomi akan runtuh tanpa kerjasama dengan Google.

Persaingan dalam mencontek perangkat lain

Diakui atau tidak hampir semua perangkat Xiaomi adalah hasil contekan dari Apple, Samsung, dan beberapa produk ponsel premium. Parahnya lagi, Tiongkok terkenal sebagai negara copycat alias negara peniru, sehingga jelas di dalam negeri saja Xiaomi menghadapi persaingan dalam mencontek produk smartphone premium, bahkan mereka saling contek satu sama lain. Sebagai contoh, Huawei saja sekarang telah mencontek marketing cara Xiaomi, yaitu dengan penjualan online di seluruh dunia.

Ada banyak hal yang harus dilakukan Xiaomi untuk membenahi permasalah-permasalah di atas, yang bisa dibilang hanya “segelintir” masalah yang akan dihadapi Xiaomi di masa depan. Bahkan perusahaan Tiongkok ini belum mampu menembus pasar Amerika dan juga Eropa. Namun satu hal yang cukup cerdik dilakukan oleh Xiaomi adalah memperkerjakan Barra yang dulunya bekerja di Google sebagai juru bicara internasional.

Langkah pertama menembus pasar Amerika adalah mengadakan event di negara Paman Sam tersebut beberapa minggu yang lalu sebagai ajang “test the water” untuk mengetahui reaksi pasar dengan kehadiran Xiaomi di sana. (Tedi)

Baca juga artikel

InFocus M320E, Android Octa Core 5,5 Inci Untuk Pasar Indonesia

Aldo AS 5, Android Octa Core Lokal Murah Meriah

Wiko Highway 4G, Masuk Indonesia Bermodalkan Chipset Quad Core Nvidia 

Artikel Lainnya

Komentar